3 Cara Pendidikan Seks Bagi Remaja dan Anak

Hasil gambar untuk 5 Alasan Kenapa Anak Perlu Pendidikan Seks


Banyak orang tua yang masih bingung bagaimana menyerahkan pendidikan seks guna remaja dengan tepat. Kebingungan ini yang mengakibatkan seks jadi topik yang tidak pernah dibicarakan. Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengemukakan bahwa edukasi seks bisa menunda kegiatan seksual, meminimalisir kejadian infeksi menular seksual, sampai kehamilan yang tidak direncanakan.

Melakukan edukasi seks, anak bakal belajar mengenai faedah tubuhnya, menghindari yang seharusnya tidak dilakukan, dan mengetahui konsekuensi dari perbuatannya. Oleh sebab itu, edukasi ini paling penting sebab dapat menolong anak terhindar dari risiko pelecehan sampai penyimpangan seksual.

1. Bangun keadaan yang nyaman

Ketika mengawali pendidikan seks guna remaja, kerjakan saat keadaan hati anak sedang baik. Orang tua juga dapat mengemukakan empiris untuk memancing anak, “Ayah/Ibu mulai tertarik guna berpacaran ketika seusiamu. Bagaimana dengan kamu?”

2. Berikan keterangan dengan bahasa yang tepat

Pendidikan seks guna remaja bila dikatakan dengan bahasa yang vulgar akan menciptakan anak malu. Sebaliknya, bahasa yang terlampau ilmiah akan menciptakan anak tidak mengerti. Hindari percakapan yang berbelit-belit sebab anak dapat kehilangan minat atau salah tangkap.

3. Beri tahu mengenai mitos dan fakta

Anak dapat mencari informasi mengenai seks dari buku, internet, majalah, atau teman-temannya. Informasi yang ia terima belum pasti benar. Pendidikan seks guna remaja mesti dapat meluruskan antara mitos dan kenyataan tentang seks, perangkat kontrasepsi, teknik penularan HIV/AIDS dan infeksi menular seksual, atau hal-hal yang bisa menunda kehamilan.

Topik edukasi seksual guna remaja tentu bertolak belakang dengan edukasi seksual guna anak-anak. Berikut ini ialah topik edukasi seks yang mesti diketahui oleh remaja menurut keterangan dari International Guadiance Sexuality Education:

1. Peran keluarga dapat berubah saat mengetahui terdapat anggota family yang hamil, mengindikasikan orientasi seksual tertentu, atau menampik menikah

Orang tua dapat menjelaskan apa tersebut LGBT dan bagaimana masyarakat memandang LGBT di negara ini. Jika Anda tergolong orang tua yang khawatir, ucapkan kekhawatiran dengan jelas tanpa menyerahkan stigma. Misalnya, khawatir sebab LGBT dilarang agama dan kepercayaan keluarga.

2. Anak mesti memahami hukum pelecehan dan kekerasan seksual

Anak mesti memahami bahwa pekerjaan seksual mesti didasari persetujuan kedua belah pihak. Jika tidak, maka itu dapat termasuk pelecehan seksual. Setiap orang yang mengerjakan pelecehan atau kekerasan seksual mesti bertanggung jawab cocok dengan hukum yang berlaku.

3. Pernikahan sarat tantangan

Anak yang berpacaran mesti memahami bahwa risiko kehamilan di luar nikah ialah pernikahan. Pernikahan tersebut tidak mudah. Oleh sebab itu, orang tua dapat menyarankan pada anak guna menunda pernikahan dan bersangkutan seksual sampai usia 20 tahun. Hal ini dilakukan supaya anak bertanggung jawab terhadap sikap yang diambil.

Pendidikan seks guna remaja memang topik yang canggung namun ini mesti dilaksanakan untuk kebajikan anak. Ingat, memberi edukasi seks pada anak bertolak belakang dengan mengajarkan anak mengerjakan hubungan seks. Oleh sebab itu, beranikan diri kita untuk merundingkan ini. Jika perlu, ucapkan dengan humor supaya suasana lebih santai.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *